efendisimbolon.blogspot.com

Minggu, 18 Juni 2017

Menatap Jauh ITC Mangga Dua

Kulihat logo ITC Mangga Dua dari celah jendela bisingnya kereta berjalan. Ternyata masih banyak  pohon-pohon yang lebat dan aroma hijau kota Jakarta. Dalam pikiranku tidak ada yang aneh dengan kondisi kota ini, kota yang selalu dikambinghitamkan dalam segala hiruk pikuknya. Apa yang kurang dari kota ini, tanyaku kepada obrolan para remaja di warung  kopi Excelso.....

Selasa, 06 Juni 2017

Bapak Presiden kapan main Kerumah?

Pak, kapan main kerumah ? Pak, ongkos pulang pergi naik pesawat lion air ngak terlalu mahal  paling-paling 700 ribu hari biasa dan 800 ribu untuk hari libur dan hari besar. Kalau pesawat Lion air penuh bisa naik batik air pak hanya nambah 100 ribu. Pak kalau nanti bapak main kerumah tenang ajah akan kusiapkan rental mobil avanza untuk ajak bapak berkeliling kota melihat betapa indahnya kota kami sekarang , ada jembatan ampera yang dikelilingi lampu warna-warni, dan mau nunjukin  kota kami sudah punya LRT pak, kereta cepat dalam kota. Pak sekali-sekali lah kita ngak perlu terlalu formal dan protokoler, kami yakin bapak juga sama seperti kami  pengen hiburan atas semua kejenuhan dan  ketegangan yang terjadi akhir-akhir ini di negara kita. Pak kalau boleh berbagi cerita, aku pernah bermimpi negara kita ini akan hebat disegala sisi, mulai dari pertanian sampai kelautan diakhiri dengan keharmonisan antara manusianya. Tapi dalam mimpiku ada sedikit ketakutan pak, kapan kita bisa minum teh bersama.

Rabu, 26 April 2017

"Pakai aku"

"Pakai aku"
Efendi Simbolon, S.H

Batinku terlarang   melihat sudut kota merata debu
Berjalan melihat tuan penuh piluh
Melampiaskan angan dengan syahdu
Namun tak seelok Negaraku melek huruf.
Anak muda menatap lalu tidur
Ditemani  kopi penuh lembur
Lantas kemana aku mencari jalan lurus itu kuhadapi baju lecek penuh biru.
Terbuang kikisan penyesalan itu
Meneropong jalan lampu jalan
Lalu aku terbuang kesemak penuh ular
Terlempar dan terdampar tak membisu.
Ajaib, kini surga nyaris tak aku rasakan
Penuh bintang bersinar redup
Tiupan angin berdegus, berdegus ah aku hanya cadangan di negara tuan.
Kubuka selendang baru tak kulihat ada tubuh ayu
Kutarik bantal tidur menutup mulut tak sampai kesitu
Barangkali ada yang mengerti isi hati
Kan kujadikan pelangi satu warna.
Lalu aku terpakai luka anak cucu enggan tahu
Tapi malu merusak pikiranku menjelaskan masuk lubuk ubun penuh kesesakan.
Kini penerimaan memangkas semangat
Kuambil lonceng kusuarakan ingat kaki ini tertancap duri
Tangan berkeringat semangat boleh diuji.


Minggu, 23 April 2017

Seandainya Mau Begitu Mungkin Ngak Begini “Kontemplasi Kekalahan Tuan Crab Dalam Perang Kepemimpinan”



Seandainya Mau Begitu Mungkin Ngak Begini
Kontemplasi Kekalahan Tuan Crab Dalam Perang Kepemimpinan

Opening Statement
“Setiap orang tahu politik tetapi tak seorang pun yang memahaminya” -Mark Twain-

Alkisah perang sudah dimulai dengan senjata yang lengkap telah siap untuk bertempur, hingga terjadilah pertempuran itu, namun ada hal yang menarik untuk disimak ketika itu para prajurit sudah mengangkat bendera  putih menyatakan kekalahannya, dan prajurit lawan menurunkan senjatanya. Satu hal yang tersirat adalah “Bodoh” mengapa demikian? Karena sakit hati tidak dapat dituntaskan dengan mengangkat bendera putih, karena pertumpahan darah sejatinya telah terjadi, namun niat itu diurungkan karena kasih sayangnya terhadap jiwa manusia yang telah menyadari kesalahannya dengan menyatakan kekalahan. Padahal jikaulah prajurit lawan boleh berfikir sejenak, Perang sudah menyita banyak waktu dan taruhan hidup dan mati.
Demikian yang terjadi dengan kontestasi politik antara tuan crab dan sedo, ketika itu tuan crab menjadi pemimpin sebuah kota paling bergengsi dengan banyaknya kumpulan koin-koin emas, karena tuan crab sudah mendekati masa kepemimpinannya dilaksanakalah ajang pemilihan pemimpin. Dengan tekad bulat tuan Crab mencalonkan diri untuk mengikuti pemilihan kedua kalinya, niat itu dilandasi dengan kegigihan tuan Crab agar memastikan koin-koin emas aman dan cukup untuk kehidupan anak cucu pada masa yang akan datang.
Pada akhirnya tuan Crab kalah dalam ajang pemilihan, yang menyebabkan tuan Crab sejenak membisu dan bertanya ada apa dan mengapa? Padahal seluruh rakyat kota bangga dan puas dengan kinerja tuan Crab pada masa itu. Namun tuan Crab tersentak dengan ketika membaca tulisan di dinding-dinding taman kota yang bertuliskan “anda kurang latihan dalam peperangan”, melihat tulisan itu tuan Crab hanya tersenyum pilu dengan gigi-gigi pesakitan.
Dengan bermodalkan penasaran terhadap tulisan “anda kurang latihan dalam peperangan”, tuan Crab berangkat menuju tepi-tepi pantai untuk menyelami kata-kata itu. naas tuan Crab terbangun dari mimpinya, menarik nafas sedalam-dalamnya dan berkata “Wah saya lupa ini perang, bukan bagi-bagi sembako”. Seandainya tuan Crab berlatih terlebih dahulu, mungkin ia dapat berbuat begitu, dan bukan begini, namun penyesalan tinggalah kenangan, sesungguhnya perperangan sudah dimulai terkungkung oleh ketulusan dan keikhlasan.
Oh Tuan Crab mengapa kau begini...............bukan begitu?.

Senin, 13 Maret 2017

Dibalik kecemburuan aplikasi online “Siapa dan mengapa?”



Dibalik kecemburuan aplikasi online
“Siapa dan mengapa?”
Essay
Efendi Simbolon

Opening Statement
“Teknologi informasi dan bisnis menjadi saling terjalin dengan erat. Saya tak berpikir siapa pun dapat berbicara salah satunya dengan penuh makna tanpa membicarakan satu yang lainnya” –William Henry “Bill” Gates III-

A.    Pendahuluan
Aplikasi online yang terdapat didalam smartphone menjadi fasilitas yang sangat penting saat ini, masyarakat tidak lagi disulitkan dengan mengakses website Google untuk dapat menggunakan Facebook, Twitter, dan sebagainya. Hanya dengan mengunduh (download) di layanan aplikasi Play Store atau App Store, masyarakat langsung dapat menggunakan aplikasi tersebut. Hal ini merupakan suatu kemajuan teknologi yang tidak dapat dibendung begitu saja, karena banyak manfaat yang  didapatkan bagi penggunanya, namun disatu sisi terdapat persoalan yang mendasar dengan kemajuan teknologi yaitu tidak semua masyarakat dapat menggunakannya, salah satunya adalah orang tua yang lahir pada angkatan 60an atau 70an, orang tua pada  angkatan ini dapat dikatakan wajar tidak begitu memahami teknologi seperti layanan aplikasi online, karena pada waktu itu keberadaan Handphone pun menjadi barang yang langka.
Fenomena diatas menjadi sangat jelas terlihat pada saat kemunculan aplikasi online seperti Gojek, Grab, dan Uber  yang sedang diperdebatkan. Saat ini tukang ojek dan taksi tidak perlu lagi mangkal atau menepi untuk mendapatkan penumpang, dengan menggunakan aplikasi online seperti Gojek, Grab, dan Uber, penumpang sendirilah yang aktif untuk mencari jasa ojek atau taksi yang mereka butuhkan.  Dengan adanya aplikasi online inilah yang menyulutkan kecemburuan dari beberapa tukang ojek atau taksi  yang tidak menggunakan,  Keadaan ini dapat mengurangi pendapatan mereka yang kalah bersaing dengan tukang ojek dan taksi yang menggunakan aplikasi online.  Tentu kecemburuan ini dapat memicu aksi yang lebih besar lagi diantaranya, keributan/perkelahian antara pengguna aplikasi online dan yang tidak menggunakan aplikasi online.

B.     Kesenjangan antara pendidikan dan kemajuan teknologi
Salah satu penyebab kecemburuan tersebut adalah jauhnya jurang pemisah antara pendidikan yang didapatkan dengan kemajuan teknologi saat ini. Peran pendidikan untuk memahami kemajuan teknologi tidak dapat menyentuh sampai kepada akar permasalahan. Akar permasalahannya adalah sebagian masyarakat tidak siap dan kaget dengan kehadiran aplikasi online atas kenischayaan suatu kemajuan teknologi. Peran pendidikan yang dimaksud bukan sekedar pendidikan formal yang didapatkan didalam bangku sekolah atau perkulihan, lebih jauh lagi adalah pendidikan karakter untuk memahami hukum alam kemajuan teknologi yang semua Negara didunia mengalaminya.

C.    Kesimpulan
Aplikasi online adalah suatu bukti nyata kemajuan teknologi yang tidak dapat dihalangi, mau tidak mau suka tidak suka akan selalu ada kemajuan teknologi baru dimasa-masa yang akan datang.

Jumat, 03 Maret 2017

Nasib Negeri Ini ditanganmu

"Nasib negeri ini ditanganmu"
Sepertinya anak-anak muda terlalu kritis untuk mengomentari hiruk pikuk yang terjadi di negeri ini. DPR goblok, mangkir dan makan gaji buta walau tidak bekerja, seru anak-anak muda yang selalu asik dengan gadgetnya. Presiden dan para menterinya tak luput dari  hujatan, presiden hanya boneka partai, dan hanya mikirin keluarganya. Polisi menjadi aktor yang sangat merisaukan, hanya jaga di pos. prittt... Dapat goceng sampai ceban. Hakim modal  peci  dapat 2 Miliar untuk mengetok palunya. Jaksa pasal 340 pindah 338  minimal mobil Fortuner diantar dirumah. Buat KTP mesti nyogok dulu sebagai pelumas agar licin mesin cetakkannya. 
Jujur, kalau mau dijabarin satu persatu saya ahlinya tapi rada ngak kuat, karena bisa satu album kesalahannya. 
Kalau kau risau melihat itu, sesungguhnya Tuhan sudah muak, maka jangan diam dan ambilah peranmu untuk membangun negeri ini kalau tidak bisa membangun paling tidak jangan menjadi benalu. 
Tetap semangat....

Selasa, 24 Januari 2017

NEGERI PARA PENYAMUN



NEGERI PARA PENYAMUN
Puisi dari perusak bangsa
Penulis : Efendi Simbolon


Sudahkah kau berdoa untuk malam-malam yang panjang itu, agar tidur mu nyenyak?
Sudahkah kau menulis di atas bukumu yang penuh debu pertikaian?
Ia saya harap kau sudah menyiapkan segalanya
Pernakah kau berfikir anjing mengongong untuk menjaga keheningan rumah mu?
Pernahkah kau berfikir untuk menjaga anak cucu mu dari kelaparan.
Saya mengaminkan doa mu yang penuh kesejukkan itu.
Kini saatnya dan sudah saatnya kami menginjakkan kaki untuk mengangkat senjata
Kini saatnya dan sudah saatnya kami menusuk rusukmu
Sakit...sakit...dan sakit tampaknya kau sudah lelah
Hentikan.. pergi dan pergilah kami tidak kuat
            Kami tidak kuasa ini negeri para penyamun
            Angkat kembali senjata mu agar kami tenang dengan malam-malam panjang itu.

Sabtu, 21 Januari 2017

KRITIK PEMERINTAH DAN TINDAK PIDANA MAKAR (Menyoroti dari ruang Televisi persoalan negeri ini) Efendi Simbolon



KRITIK PEMERINTAH DAN TINDAK PIDANA MAKAR
(Menyoroti dari ruang Televisi persoalan negeri ini)
Penulis : Efendi Simbolon



            Dalam peraturan perundang-undangan Indonesia tidak diatur secara jelas mengenai definisi makar. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia yang dimaksud dengan makar adalah “Akal busuk; tipu muslihat, perbuatan (usaha) dengan maksud hendak menyerang (membunuh) orang, perbuatan (usaha) menjatuhkan pemerintah yang sah”. Selanjutnya mengenai  tindak pidana makar di atur di dalam Pasal 104, Pasal 106, dan Pasal 107 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).
            Akhir-akhir ini sedang hangat diperbincangkan persoalan tindak pidana makar yang melanda negeri ini. Banyaknya berita di media cetak dan media elektronik menjadi momok yang menakutkan apabila benar terjadi tindak pidana tersebut. Namun persoalan yang lebih mendasar daripada itu adalah apakah benar ada upaya makar?
             Nama-nama yang bernuansa kitikal terhadap pemerintah, dianggap telah melakukan tindak pidana makar mereka dianggap tidak pro terhadap pemerintah beserta kebijakan-kebijakannya. Persoalan ini  diawali dengan kasus yang menjerat Ahok Calon Gubernur DKI Jakarta, yang berlanjut kepada suara-suara bahwa presiden seharusnya tegas dalam mengambil sikap terhadap yang telah dan akan terjadi di negeri Ini.  
            Apabila yang dimaksud dengan tindak pidana makar adalah kritik terhadap pemerintah maka sudah seharusnya kita menutup buku dan membungkam mulut, karena setiap pendapat yang tidak pro terhadap pemerintah disinyalir melakukan tindak pidana makar atau paling tidak melakukan percobaan tindak pidana makar. Sebagai analoginya Bapak berjalan dengan anaknya, dan bapak tersebut salah jalan yang seharusnya kekiri namun kekanan dengan sengaja anak mengingatkan bapaknya bahwa jalan yang harus kita lalui kekiri bukan kekanan, apakah seketika itu bapak langsung menampar anaknya  dan berkata “kamu diam saja bapak sudah sering lewat sini”, ada dua kemungkinan yang terjadi bapak yang sengaja kekanan namun tujuannya sama seperti kekiri atau bapak sudah lupa jalan.
            Sesungguhnya hal inilah yang sedang terjadi di negeri ini, di satu sisi apabila semua orang bebas tanpa batas untuk mengungkapkan pendapat maka hal itu juga dapat dianggap lumrah karena pada dasarnya kita sudah menyepakati demokrasi langsung dan berkembang menjadi demokrasi perwakilan melalui  DPR. Disisi lain bila hal ini tidak di awasi maka terjadilah manusia memakan manusia lainnya. Tentu kondisi ini tidak diinginkan melainkan harus dibenahi sedemikian rupa melalui perundingan tanpa batas, dapat dimungkinkan pemerintah mengajak makan malam terlebih dahulu dan meminta klarifikasi apa yang dimaksud dengan pendapat nama-nama tersebut atau yang ekstrim dengan dilakukannya penyisihan beberapa bangku kosong untuk meninjau mau dibawa kemana Negara ini.

Senin, 09 Januari 2017

SAAT DOKTER MAKAN MALAM DENGAN PASIEN “Berfilsafat Dengan Anekdot” Efendi Simbolon



SAAT DOKTER  MAKAN MALAM DENGAN  PASIEN
“Berfilsafat Dengan Anekdot”
Efendi Simbolon


Opening Statement:
“Setiap orang berbicara tentang cuaca, tetapi tak seorang pun yang bisa berbuat terhadapnya”
-Carlton Clymer Rodee, dkk-

Mungkin malam itu menjadi malam yang sangat mengharukan bagi Don. Tepat pukul 00:20 Wib Don merasa gelisah saat sakit gigi itu menjalar hingga ke ubun-ubunnya. Balik ke kanan balik ke kiri terus dilakukan ditempat tidur dengan ditemani bantal guling yang empuk, cara itu dilakukan untuk meredam sakit yang dialaminya. Pada saatnya Don merasa tidak kuat untuk menahan sakit yang dialaminya, dan bergegas menuju rumah sakit terdekat meminta dokter memeriksa masalah pada giginya. Datanglah seorang Dokter dengan paras yang cantik dan menawan menghampiri Don, “kenapa dengan gigi anda pak?” tanya Dokter sambil tersenyum kepada Don “ini Dok ngak tahu kenapa gigi saya tiba-tiba sakit” jawab Don. “oh kalau begitu bapak saya suntik ya, biar giginya ngak sakit lagi”, “iya Dok, suntik aja”. Segera Dokter meminta seorang suster untuk menyuntik Don, “bapak disuntik dulu ya, tarik nafas dan buang perlahan-lahan, sudah pak sudah selesai”. Makasih ya suster. Suster, saya mau naya dokter yang tadi itu siapa ya namanya? “Oh itu Dokter Sesil pak, dia masih gadis ya sus? Heheheeh, Iya pak. Oh iya Sus makasih ya, iya mari pak”.
Setelah itu Don pergi menuju loket administrasi untuk mengambil obat dan membayar seluruh biaya pengobatannya, tak disangka bertemu dengan Dokter sesil. Gimana pak sudah mendingan? Seru Dokter. Sudah Dok udah sembuh kok, iya nanti obatnya dimakan ya pak biar giginya ngak sakit lagi, iya Dok. Don pun bergegas pergi meninggalkan rumah sakit.
Ternyata diam-diam ketika dirumah sakit Don mencari tahu nomor Dokter Sesil, dan hari berikutnya Don mengirimkan pesan kepada Dokter Sesil “hai Dok masih kenal ngak sama saya, siapa ya? Ini Dok saya Don yang waktu itu pernah dokter periksa saya saat sakit Gigi, oh....iya.iya pak kenal. Ada apa pak? Enggak Dok cumin pengen nyapa ajah, oh gimana keadaanya pak sekarang? Sudah Dok sudah sembuh kok, berkat saran dari Dokter waktu itu, ah bapak bisa ajah, itu sudah menjadi kewajiban kami pak sebagai Dokter untuk menyarankan kepada setiap pasien.
Singkat cerita, hingga akhirnya Don berencana mengajak makan malam Dokter Sesil. “Dok, saya boleh nanya sesuatu ngak”, “iya pak nanya apa”. “Dok kalau berkenan, bersediakah dokter makan malam sama saya”... Makan malam pun terjadi.

Penutup
Don tidak pernah menyangka pada malam itu tiba-tiba giginya mengalami kesakitan yang luar biasa, hingga akhirnya dia pergi ke rumah sakit dan bertemu dokter cantik hingga berlanjut dalam Makan malam yang penuh dengan keromantisan. Cerita ini tidak berbanding terbalik saat jutaan masyarakat mengkritik pemerintahan, saat malam yang panjang, menuntut  pemerintah menurunkan harga sembako, demo dijalanan, hukum harus ditegakan, dan masih banyak lagi. Saat hal itu direalisasikan kepada satu aktor utama, apakah masih bersuara lantang, atau mengajak  makan malam bersama?